Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka Free read ¼ 4

review Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka

Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka Free read ¼ 4 · Awalnya hanyalah mengenai lukisan celeng tapi kemudian buku ini bercerita tentang politik mental tingkah laku kemunafikan kekejaman kejahatan dendam nafsu naluri dan nasib manusia yang laksana celeng Buku ini bagaikan mengulang kata kata filsuf FriedrMan kejahatan dendam nafsu naluri dan nasib manusia yang laksana celeng Buku ini bagaikan mengulang kata kata filsuf Friedrich N. Sindhunata tentang lukisan celeng nya Joko Pekik Jadi ingat bis keluarga beliau yang juga bergambar celeng Wah bening dah cool

Sindhunata Ä 4 Summary

Ietzsche binatang buas itu belum mati dalam peradaban modern ini binatang buas itu masih hidup makin hidup malahan ia diilahikan. hi allg punya 2 buku ini ada yg minatbisa barter dgn buku yang laen

Download Ò PDF, DOC, TXT or eBook Ä Sindhunata

Tak Enteni Keplokmu Tanpa Bunga dan Telegram DukaAwalnya hanyalah mengenai lukisan celeng tapi kemudian buku ini bercerita tentang politik mental tingkah laku kemunafikan kekeja. Menggunakan metafora celeng alias babi hutan Sindhunata ternyata nyentil banyak hal dalam buku ini Tak hanya tentang karut marut situasi Indonesia saat ini tapi juga tentang perilaku manusia sehari hari Dalam buku setebal 175 halaman ini Pemimpin Redaksi Majalah Basis ini tak henti henti menghadirkan satire yang membuat saya ketawa ngakak selama baca buku iniCerita dalam buku ini memang surealis Melabrak batas antara fiksi dan non fiksi Antara mustahil tapi bisa saja terjadi Cerita tentang lukisan celeng karya Djokopekik ini bisa sambung menyambung dengan gaya kepemimpinan Soeharto zaman Orde Baru serakahnya anak anak Soeharto sampai ontran ontran politik 1997 1998 Semuanya ditulis dengan gaya jenaka dan tokoh fiktif namun amat jelas mengarah pada siapaKarena itu struktur ceritanya juga agak sejalan dengan situasi politik Indonesia Sejak zaman 1965 hingga pada fase yang biasa disebut Orde Reformasi ini Sindhunata menggambarkannya dengan satire lewat personifikasi pelukis celeng desa ataupun pameran lukisan Oh ya semua cerita itu bersumber memang pada lukisan celeng Namun celeng ini ternyata bisa hidup Menjelma pada diri pelukis Pada diri penguasa tamak Pada anak anaknya Pada ketua partai Pada anak anak Pada penonton wayang Pada kita semua Kita semua serupa celeng yang rakus dan suka pura puraDengan amat satire Sindhunata menutup buku ini Maka semuanya pun menjadi celeng Itu juga yang membuat saya heran kenapa buku ini tak berjudul Celeng saja ya