Jejak Mata Pyongyang Free download ¹ PDF DOC TXT eBook or Kindle ePUB free

Seno Gumira Ajidarma Æ 2 Free download

Jejak Mata Pyongyang Free download ¹ PDF, DOC, TXT, eBook or Kindle ePUB free ã Datang sebagai juri pengganti untuk Festival Film International Pyongyang ke 8 pada tahun 2002 ternyata bukanlah film film peserta festival itu yang menarik perhatian penulis buku ini melainkan Kota Pyongyang itu itu sendiri Datang sebagai juri pengganti untuk Festival Film International Pyongyang ke 8 pada tahun 2002 ternyata bukanlah film film peserta festival itu yang menarik perhatian penulis buku ini melainkan Kota Pyongyang itu itu sendiri sebagai ibukota Republik Rakyat Demokrat. THIS IS GUUUDDD10 halaman pertama saya sempat mikir ya ini jelek amat sih buku kumpulan foto gini kok nggak berwarna kemudian baru sadar kalau memang fotonya dipotret dengan mode black white www semprul memang kamu mai xDini bagusmenceritakan tentang pengalaman mas mas seno waktu menjadi juri festival film di korea utara tahun 2002 tapi buku ini ditulis 10 tahun kemudian karena dia baru inget jadi cerita di buku ini lebih banyak tentang foto daripada ceritanya karena mas senonya sendiri katanya udah agak lupatapi tetap baguuspas baca ini tuh jadi mikir sendiri seandainya saya tinggal di negara komunis gimana ya yang buku dan film serta musik yang ingin di konsumsi aja sudah diatur sama negaranggak bisa bayangin tapi di satu sisi saya juga jadi tertarik apalagi di zaman digital seperti sekarang ini ada ya orang yang bisa nggak main twitter hebat xDada beberapa fakta menarik yang saya temukan dari buku ini misal saya baru tau kalau di negara korea utara pakaian orang2 hanya warna2 gelap putih hitam abu2 dan navy saja pakaian berwarna hanya dipakai untuk penari yang menyambut tamu atau untuk acara khusus itupun hanya berwarna merah hijau dan biru sebagai orang yang tertarik dengan konsep minimalis sebenarnya saya cukup berminat dengan tren ini sih tapi saya gak bisa bayangin juga sih gimana ya rasanya pakai baju putih dan celana hitam terus selama 365 hari seumur hidup suremsaya juga mendapatkan gambaran cukup jelas apa itu komunisme dari buku ini soalnya dulu belajar di sekolah atau beberapa kali baca artikel gak begitu paham banget wwselesai baca ini selain pengen ikutan motret juga jadi pengen membaca buku2 berlatar komunisme gini hehebuat belajar aja sihbagus suka

Read ´ PDF, DOC, TXT, eBook or Kindle ePUB free Æ Seno Gumira Ajidarma

Ik Korea negeri komunis ortodoks yang masih tersisa di muka bumi yang lebih dikenal sebagai Korea UtaraKota dan berbagai perilaku manusia di dalamnya teramati selama bertugas 17 hari di Pyongyang menghasilkan catatan dan jejak mata berupa foto foto yang hanya bisa. “Dahulu kala bangsa Korea kan jelas beragama sejak kapan kepercayaan ditinggalkan” “Ketika kami dijajah Jepang kami sangat menderita dan kami semua berdoa terus menerus tetapi perubahan takkunjung tiba” jawab penerjemah itu “maka Pemimpin Besar Kim Il Sung berkata bahwa perubahan hanya bisa terjadi dengan usaha manusia Jadi kami lebih percaya kepada manusia”Itu adalah pertanyaan penulis kepada intel yang ditugaskan menjadi penerjemah D selama penulis menjadi juri pengganti di Festival Film Negara Negara Non Blok Berkembang Lainnya di Pyongyang Korea Utara tahun 2002 Sebagai seorang jurnalis tak hairan banyak hal menarik yang diungkapkan penulis meski dia mengaku jeda 10 tahun untuk menuliskan pengalamannya membuat banyak detail detail yang terlupa Penulis menuturkan dalam bentuk foto teks sehingga sangat membantu visualisasi pembaca terhadap negeri komunis ini Tentang hotel tempatnya menginap yang terletak di delta sehingga menyulitkan penghuninya untuk mengamati masyarakat sekitar Bahkan penulis yakin bahwa dia hanya sendiri ditempatkan di lantai 42 hotel tsb dengan kamar yang luas Tentang restoran yang tak bernama hanya diberi nomor Restoran 1 Restoran 2Tentang gaya berbusana warga Pyongyang yang cenderung menggunakan warna hitam kelabu dan cokelat Sehingga penulis begitu bahagia saat melihat seorang warga mengenakan baju berwarna merah Tentang warga yang diberi kupon untuk membeli kebutuhan sehari hari Sehingga uang tidak banyak bahkan hampir tidak pernah digunakan dalam keseharianTentang pemimpin yang begitu dituhankan Larangan larangan DllSaya nggak mau bilang Beruntung sekali saya sebagai WNI yang boleh pakai baju warna mejikuhibiniu megang uang sendiri dll dsb Sebab kita tak benar benar tahu apakah warga Pyongyang tidak suka atau mungkin malah menikmati kondisi tsb Buat saya kurang panjang saja sih buku ini Karena menarik sekali menyingkap kehidupan negeri komunis yang sangat tertutup ini Apalagi dituturkan oleh penulis sekelas SGD Tapi karena sejak awal penulis sudah mengungkapkan jeda 10 tahun dari pengalaman ke tulisan ya apa boleh buat D

Read Jejak Mata Pyongyang

Jejak Mata PyongyangDidapatkan dengan menyiasati berbagai larangan Buku ini tidak membahas pandangan politik melainkan sketsa kenangan seseorang dari negeri seperti Indonesia yang setelah 10 tahun masih saja tak habis pikir dengan peranan negara dalam usaha mencekoki isi kepala wargan. Berbeda seperti pada umumnya kali ini Seno Gumira Ajidarma mencoba untuk mengeluarkan sebuah buku mengenai pengalamannya berkunjung ke negara Korea Utara Berbeda dengan kunjungan ke negara lain kunjungan ke negara beribukota Pyongyang tersebut memiliki kesan tersendiri bagi Seno Gumira Ajidarma sehingga perlu untuk dituangkan dalam sebuah karya tulis Seno sendiri menyadari bahwa pengalamannya mengunjungai negara tersebut terjadi pada tahun 2002 dan baru menuliskannya beberapa tahun kemudian ia mengakui bahwa ia menyesal tidak menuliskannya sesegera mungkin menimbang ingatan manusia yang semakin lama semakin mudah lupa Sehingga oleh Seno penguatan tulisan coba untuk dikuatkan dengan kumpulan foto yang sempat dijepretnya secara nekat ketika berkunjung ke Korea Utara dan beberapa buah tangan yang masih tersimpan dan bisa kita lihat dari buku iniSaya sendiri perlu berterima kasih kepada Seno Gumira Ajidarma yang bisa memaparkan pengalamannya ketika berkunjung ke Korea Utara Kota yang masih diliputi misteri dan penuh tanda tanya hingga sekarang Melalui buku ini kita akan dijelaskan bagaimana sepinya kota Pyongyang takutnya masyarakatnya ketika akan difoto orang asing penyeragaman para penduduk sedikitnya masyarakat beragama dan masih banyak hal lain yang apa yang kita anggap lumrah sekarang di Indonesia di Korea Utara sulit untuk terwujud Apakah mereka bahagia dengan kehidupan semacam itu entahlah karena bahagia sendiri hanya dapat diketahui oleh pemilik tubuh masing masing